Bab 1 Empat Puluh Langkah

MALAM KEEMPAT PULUH

MALAM KE EMPAT PULUH

Ada empat puluh langkah dari gerbang depan menuju pintu rumah ini.

Nara tahu karena ia pernah menghitungnya , usia tujuh tahun, sepatu sekolah masih basah kena hujan, berlari sambil berteriak Ibu, aku pulang. Empat puluh langkah. Selalu empat puluh. Ia pernah mencoba mempercepatnya, memperlebarnya, tapi angkanya tidak pernah berubah.

Malam ini ia berjalan sangat pelan.

Dan tetap empat puluh langkah.

Rumah itu penuh orang.

Beberapa wajah Nara kenal , tetangga lama, teman arisan ibu, seorang perempuan tua yang selalu membawa permen jahe ke pengajian. Lebih banyak lagi yang tidak ia kenal. Orang-orang yang muncul hanya ketika ada kematian, seolah duka adalah acara yang perlu dihadiri.

Nara berdiri di ambang pintu selama beberapa detik.

Tidak ada yang memperhatikannya datang.

Bagus, pikirnya. Ia tidak siap untuk pelukan, untuk tatapan iba, untuk kalimat-kalimat yang terasa seperti template , sabar ya, ikhlaskan, dia sudah tenang di sana. Kalimat-kalimat yang benar tapi kosong. Kalimat yang diucapkan orang ketika mereka tidak tahu harus berkata apa tapi merasa wajib mengisi keheningan.

Ia masuk.

Aroma rumah ini tidak berubah.

Kayu tua, melati, dan sedikit bau minyak telon yang entah dari mana asalnya , mungkin sudah meresap ke dinding sejak Nara bayi. Dulu aroma itu terasa seperti pulang. Malam ini terasa seperti pengingat bahwa orang yang menciptakan aroma itu tidak akan pernah ada lagi di sini.

Nara menelan sesuatu yang berat di tenggorokannya.

Ia tidak akan menangis. Tidak sekarang. Tidak di sini.

"Nara."

Suara Dimas datang dari arah ruang tengah. Kakaknya itu berdiri di antara dua orang tua yang sedang menyalami tangannya , wajah lelah, kemeja putih sedikit kusut di bagian lengan, rambut yang biasanya rapi kini tampak seperti sudah dijalankan jari berkali-kali.

Ia terlihat seperti kakak yang kehilangan ibunya.

Nara tidak tahu mengapa kalimat itu terasa seperti sebuah penilaian.

"Kamu baru sampai?" Dimas meminta diri dari dua orang tua itu dan menghampirinya. Tangannya mendarat di bahu Nara , hangat, familiar. "Kenapa tidak bilang? Aku bisa suruh Bayu jemput."

"Aku naik taksi."

"Perjalanan jauh sendirian,"

"Aku baik-baik saja, Mas."

Dimas memandangnya sebentar. Ada sesuatu di matanya yang Nara tidak bisa baca , mungkin kelegaan, mungkin sesuatu yang lain , lalu ia mengangguk pelan.

"Ibu di kamar," katanya. "Mereka baru selesai memandikan tadi sore."

Nara tidak langsung ke kamar.

Ia berdiri di lorong yang memisahkan ruang tamu dari bagian dalam rumah, membiarkan keramaian berdengung di belakangnya. Di ujung lorong, pintu kamar ibu tertutup. Cat putihnya sedikit mengelupas di sudut bawah , sudah begitu sejak lama, ibu selalu bilang nanti diperbaiki tapi tidak pernah benar-benar diperbaiki.

Nara menarik napas.

Empat langkah.

Tiga.

Dua.

Ia menyentuh gagang pintu.

Kamar itu kecil dan sunyi.

Ibu terbaring di atas ranjang dengan kain putih menutupi tubuhnya hingga dada. Wajahnya damai , itu yang selalu orang katakan tentang orang yang sudah meninggal, wajahnya damai, seolah kematian adalah sesuatu yang menenangkan. Mungkin memang begitu. Nara tidak tahu.

Yang ia tahu: ini bukan wajah orang yang mati karena sakit jantung mendadak.

Ini wajah orang yang kelelahan.

Ada perbedaan, dan Nara cukup lama hidup bersama perempuan ini untuk mengetahuinya.

Ia duduk di kursi rotan di sudut kamar , kursi yang selalu ada di sana, kursi tempat ibu duduk membaca Quran setelah subuh. Tangannya menyentuh pinggiran kursi itu.

Matanya menyapu ruangan.

Lemari kayu di sebelah kiri. Meja rias dengan cermin bulat. Foto keluarga di dinding , Nara, Dimas, dan ibu, waktu Nara masih SMP. Nakas kecil di samping ranjang dengan laci yang...

Laci yang terbuka sedikit.

Nara mengerutkan dahi.

Ibu tidak pernah membiarkan laci itu terbuka. Kebiasaan lama, katanya dulu, selalu tutup laci sebelum tidur, biar rezeki tidak lari. Kalimat yang tidak masuk akal tapi selalu dipatuhi.

Nara berdiri.

Ia mendekati nakas itu.

Menarik laci lebih jauh.

Di dalamnya: tasbih, lipstik cokelat tua yang sudah hampir habis, selembar tisu, dan sebuah amplop cokelat tanpa nama.

Nara mengambil amplop itu.

Membukanya.

Di dalam amplop, sebuah foto berukuran 4R , sedikit buram, seperti diambil dari kejauhan, melalui jendela.

Foto itu menampilkan seorang perempuan yang sedang berjalan di trotoar.

Perempuan itu mengenakan jaket hijau tua dan membawa tas kamera di bahunya.

Nara mengenal jaket itu.

Nara mengenal tas kamera itu.

Karena perempuan di foto itu adalah dirinya sendiri , diambil dua minggu lalu, di kota yang ratusan kilometer dari rumah ini, di hari yang bahkan tidak ada seorang pun yang tahu ia berada di sana.

Di belakang foto itu, tulisan tangan ibu:

"Jangan percaya siapa pun di rumah ini."

Komen aja dulu siapa tau akrab! Kebijakan Komentar

Lebih baru Lebih lama
💬 Ahmad
Halo! Ahmad disini 😊