Masjid Bukanlah Playground

Masjid Bukanlah Playground

Hari ini saya ingin mengangkat sebuah fenomena yang pasti sering banget kalian temui saat salat berjemaah di masjid, terutama pas musim salat Tarawih di bulan Ramadhan. Ya, apalagi kalau bukan masalah anak-anak kecil, balita, bahkan bayi yang dibawa ke masjid lalu dibiarkan merajalela bermain, berisik, lari-larian, sampai mengganggu jemaah lain!

Anehnya, banyak orang tua yang membiarkan hal ini dengan dalih, "Namanya juga anak-anak," atau berlindung di balik kutipan populer tentang pentingnya mendengar suara anak-anak di masjid. Sebagai jemaah yang ingin salat dengan khusyuk, saya merasa pikiran keliru dan egois seperti ini harus kita patahkan bersama demi kemaslahatan umat. Mari kita bedah secara logis, jujur, dan berbasis fikih yang benar.

Meluruskan Kutipan Sultan Al-Fatih

Pertama-tama, mari kita luruskan dulu biar gak gagal paham. Kalimat viral yang bunyinya, "Jika suatu masa kamu tidak mendengar gelak tawa anak-anak di masjid, maka takutlah akan kejatuhan generasi muda..." itu SAMA SEKALI BUKAN HADIS NABI ﷺ! Itu adalah perkataan yang dinisbatkan kepada Sultan Muhammad Al-Fatih dari Turki.

Celakanya, banyak orang zaman sekarang menjadikan kutipan ini seolah-olah "dalil suci" untuk membiarkan anak mereka bikin keributan. Tolok ukurnya keliru banget, geng. Mari kita lihat konteks aslinya:

  • Suara yang Dimaksud: "Suara riang gembira" anak-anak di zaman Kesultanan Turki itu adalah suara mereka saat belajar, mengaji, atau bergembira karena mencintai aktivitas ibadah di masjid. Bukan suara teriakan histeris karena main petak umpet, kejar-kejaran, atau main bola di dalam ruang salat!
  • Konteks Ukuran Masjid di Turki: Masjid-masjid bersejarah di Turki (seperti Blue Mosque atau Hagia Sophia) itu ukurannya megah, super besar, dan sangat luas. Mereka punya halaman dalam (courtyard) dan koridor luar yang terpisah jauh dari saf utama salat. Jadi, kalaupun anak-anak bersuara, gaungnya minimalis dan tidak mengganggu kekhusyukan inti salat. Lah, kalau di tempat kita? Masjid atau musala kita mayoritas ruangannya terbatas. Begitu ada anak menjerit atau main bola, suaranya langsung menggelegar ke seluruh ruangan. Masjid itu tempat ibadah sakral, bukan playground!

Fenomena Tarawih, Memaksakan Diri dan Egois

Fenomena ini paling merajalela pas salat Tarawih. Banyak ibu-ibu yang memaksakan diri membawa bayi yang masih menyusui atau balita yang belum Mumayyiz (belum mengerti adab dan belum bisa membedakan baik-buruk) ke masjid. Akhirnya apa? Sepanjang salat yang terdengar bukan suara imam, tapi suara bayi menangis karena gerah, atau balita yang rewel mondar-mandir.

Saya bahkan pernah melihat kejadian nyata. Ada anak-anak yang mondar-mandir bermain tanpa pengawasan saat salat, dan saking lincahnya, mereka malah menginjak kacamata salah satu jemaah sampai rusak! Kasihan kan jemaahnya? Konsentrasi salat ratusan orang hancur berantakan gara-gara ulah satu-dua anak yang belum siap dibawa ke tempat umum.

Padahal, dalam fikih Islam, aturan untuk wanita sudah sangat jelas dan indah: perempuan yang salat di rumah itu pahalanya jauh lebih besar dan lebih baik daripada salat di masjid. Menghadiri Tarawih di masjid itu hukumnya sunah, sedangkan menjaga kenyamanan, ketenangan, dan tidak mengganggu hak ibadah ratusan jemaah lain itu hukumnya wajib! Tolong jangan sampai demi mengejar pahala sunah, kita malah berbuat egois dan menabung dosa karena mengabaikan kewajiban menjaga anak.

Belajar Adab dari Kisah Cucu Rasulullah ﷺ

Orang-orang yang pro pembiaran anak ribut biasanya akan langsung membela diri dengan kisah klasik: "Kan dulu Nabi Muhammad SAW juga memanjangkan sujudnya karena punggung beliau dinaiki oleh cucunya (Sayyidina Hasan/Husain) saat salat berjemaah di masjid."

Betul, kisah itu sahih. Tapi tolong dilihat dengan akal yang jernih bagaimana adabnya cucu Nabi:

  • Cucu Nabi saat itu cuma datang dan naik ke punggung Nabi dengan tenang saat beliau sujud. Mereka tidak lari-larian keliling saf, tidak berteriak-teriak, tidak nangis rewel, dan tidak bikin gaduh di dalam masjid.
  • Mereka adalah anak-anak yang sejak kecil sudah diisi dengan pendidikan adab yang luar biasa tinggi di rumah oleh orang tuanya (Sayyidina Ali dan Siti Fatimah). Jadi saat di masjid, mereka tahu batasan.

Masjid Ramah Anak, Orang Tua Ramah Adab

Mendidik anak agar cinta masjid sejak dini itu wajib, tapi mengajarkan mereka adab sebelum melangkah masuk ke rumah Allah jauh lebih utama. Jika anak masih bayi atau balita yang belum bisa dibilangin, alangkah lebih mulia jika sang ibu salat dengan tenang di rumah.

Ingat geng, mengoreksi hal ini bukan berarti kita benci anak kecil datang ke masjid. Kita justru senang melihat saf diisi anak-anak muda, asalkan mereka adalah anak-anak yang sudah siap secara adab, bukan anak-anak yang dilepas begitu saja tanpa pengawasan orang tua.

Disclaimer Penting Geng: Tulisan ini sama sekali BUKAN bertujuan untuk melarang anak-anak datang atau bermain di masjid secara mutlak, ya. Kita semua senang kalau generasi muda akrab dengan rumah Allah. Bermain-main kecil yang wajar tentu masih bisa ditoleransi. Namun, fokus kritis kita di sini adalah untuk anak-anak yang belum mumayyiz (belum tahu baik-buruk) atau anak-anak yang dibiarkan melakukan aktivitas ekstrem seperti bermain bola, kejar-kejaran, hingga lempar-lemparan barang di dalam ruang salat. Selain merusak fasilitas, tindakan ekstrem ini sangat berbahaya karena bisa mencederai jemaah lain dan merusak kenyamanan ibadah bersama.

Komen aja dulu siapa tau akrab! Kebijakan Komentar

Lebih baru Lebih lama