![]() |
| Rumah Adat Mandar |
Halo teman-teman pembaca setia ruang ahmad. Pernahkah kalian mengunjungi sebuah tempat di mana keindahan alam dan keheningan sejarah menyatu dengan begitu sempurna? Baru-baru ini, untuk pertama kalinya saya berkesempatan menginjakkan kaki di Kompleks Makam Raja-Raja Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Perjalanan pertama saya ke situs cagar budaya ini memberikan kesan tersendiri. Untuk bisa sampai ke lokasi utama, kami harus melewati pemukiman warga dan menyusuri lorong-lorong jalan yang kondisinya sebagian sudah cukup rusak. Meskipun jalannya menantang, lokasinya sebenarnya terhitung dekat dengan jalan raya utama, hanya saja rutenya sedikit memutar mengikuti kontur tanah.
Namun, begitu melewati jalur tersebut dan tiba di puncak, rasa lelah langsung terbayar lunas. Kompleks pemakaman kuno ini berdiri tegak di atas bukit,yang dikenal sebagai Bukit Ondongan,dan posisinya langsung menghadap ke bentangan luas Teluk Majene.
Pemandangan Pesisir dan Angin Sepoi-Sepoi
Berdiri di atas bukit ini membuat suasana hati terasa adem. Angin sepoi-sepoi yang bertiup kencang dari arah laut membuat teriknya matahari Majene seolah tidak terasa. Dari ketinggian ini, kita disuguhkan pemandangan pesisir yang sangat memukau; deretan rumah-rumah bangunan warga berjejer rapi di sepanjang garis pantai, berpadu dengan birunya air laut di bawah sana.
Beberapa waktu lalu, saya sempat membagikan sedikit catatan puitis mengenai rasa yang hadir saat berada di puncak bukit ini melalui akun media sosial saya. Berikut adalah catatan kecilnya:
Bagi yang mungkin kesulitan memuat visualnya, intisari dari catatan tersebut merekam bagaimana makam ini berdiri sejak sekitar abad ke-16 hingga ke-17 sebagai jejak awal masuknya Islam di tanah Mandar. Nisan-nisannya terbuat dari pahatan batu karang dan batu cadas yang dihiasi kaligrafi, menyimpan rapat cerita tentang kekuasaan, keimanan, dan roda kehidupan ratusan tahun lalu.
Obrolan Santai dengan Penjaga Makam: Hilangnya Jejak Sejarah
Saat berkunjung kesana, kami juga sempat menikmati momen ngobrol-ngobrol santai dengan petugas penjaga yang memelihara cagar budaya ini sehari-hari. Dari obrolan itulah terungkap cerita yang cukup memprihatinkan tentang masa lalu situs ini.
Sebelum ditetapkan secara resmi sebagai warisan budaya yang dilindungi, kawasan ini dulunya kurang terjaga. Akibatnya, sebagian batu nisan yang bernilai sejarah tinggi sempat diambil oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk dialihfungsikan menjadi cincin sumur hingga jangkar perahu nelayan. Karena kerusakan masa lalu tersebut, kini banyak kuburan yang kondisinya sudah rata dengan tanah karena tanda penanda atau nisan utamanya telah hilang.
Meski demikian, upaya penataan terus dilakukan. Untuk memasuki kawasan cagar budaya ini, pengunjung akan dikenakan tiket masuk yang cukup terjangkau sebagai bentuk kontribusi perawatan tempat. Selain melihat ratusan makam kuno (totalnya ada sekitar 471 makam), di dalam kompleks ini kita juga bisa menjumpai rumah adat tradisional Mandar yang berdiri kokoh, menambah kental nuansa pelestarian budaya di atas bukit.
Kesimpulan
Kunjungan pertama ke Makam Raja-Raja Banggae ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya pribadi. Tempat ini bukan sekadar destinasi wisata sejarah untuk melihat kuburan tua, melainkan sebuah ruang sunyi yang menghadirkan rasa,tentang laut, tentang para leluhur, dan tentang perjalanan waktu yang masih bisa kita rasakan hembusannya hingga hari ini.
Jika kalian kebetulan sedang berada di Majene, sempatkanlah untuk naik ke Bukit Ondongan. Rasakan sendiri sensasi berdiri di antara jejak masa lalu sembari memandang indahnya pesisir laut Mandar. Sampai jumpa di catatan perjalanan berikutnya!
