Banyak dari kita yang mengetahui bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib wafat karena dibunuh. Namun, tahukah Anda siapa sosok di balik pembunuhan tragis tersebut? Yang mengejutkan, pelakunya bukanlah seorang musuh dari luar Islam, melainkan seorang penghafal Al-Qur'an dan ahli ibadah bernama Abdurrahman bin Muljam (Ibnu Muljam).
Kisah ini menjadi salah satu lembaran paling memilukan sekaligus penuh pelajaran dalam sejarah Islam. Ini adalah cerita tentang bagaimana fanatisme buta dan sifat merasa paling benar sendiri dapat mengubah seorang guru agama menjadi seorang pembunuh.
![]() |
| https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Kufah |
Siapa Sebenarnya Abdurrahman bin Muljam?
Sebelum tersesat dalam pemikiran ekstrem, Ibnu Muljam adalah sosok yang sangat terpandang karena kecerdasannya. Ia adalah seorang Al-Hafiz (penghafal Al-Qur'an) yang fasih dan tekun beribadah. Di malam hari ia menghabiskan waktu untuk salat tahajud, dan di siang hari ia kerap berpuasa.
Bahkan, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ketika Gubernur Mesir meminta dikirimkan seorang ulama untuk mengajarkan Al-Qur'an kepada masyarakat di sana, Khalifah Umar memilih Ibnu Muljam. Namun sayangnya, kecerdasan otak dan intensitas ibadah fisik tidak menjadi jaminan ketika seseorang kehilangan kebijaksanaan dalam memahami agama.
Titik Balik: Perang Siffin dan Keputusan Arbitrase
Sikap Ibnu Muljam berubah total setelah meletusnya Perang Siffin, yaitu perang saudara antara kubu Khalifah Ali bin Abi Thalib dan kubu Muawiyah bin Abi Sufyan (Gubernur Syam). Ketika pasukan Ali hampir memenangkan pertempuran, kubu Muawiyah mengangkat mushaf Al-Qur'an di ujung tombak sebagai ajakan untuk berdamai melalui jalur musyawarah atau arbitrase (tahkim).
Demi menghindari pertumpahan darah sesama Muslim, Ali bin Abi Thalib menerima jalur damai tersebut. Keputusan inilah yang memicu kekecewaan mendalam bagi sebagian pengikut Ali, termasuk Ibnu Muljam. Mereka kemudian keluar dari barisan Ali dan membentuk kelompok ekstremis baru bernama Khawarij.
Dengan slogan "La Hukma Illa Lillah" (Tiada Hukum Kecuali Milik Allah), kelompok Khawarij menganggap Ali telah melakukan dosa besar karena menyerahkan keputusan hukum kepada manusia. Dalam pandangan ekstrem mereka, siapa pun yang melakukan dosa besar dianggap telah keluar dari Islam (kafir). Berangkat dari doktrin sesat inilah, Ibnu Muljam merasa bahwa membunuh Ali adalah sebuah bentuk "ibadah suci" untuk membersihkan umat.
Detik-Detik Pembunuhan dan Wasiat Luar Biasa Sang Khalifah
Peristiwa kelam itu terjadi pada subuh tanggal 19 Ramadan tahun 40 Hijriah di Masjid Kufah, Irak. Saat Ali bin Abi Thalib sedang bersiap memimpin salat Subuh, Ibnu Muljam menyerang beliau dari belakang dengan pedang yang telah direndam racun beracun.
Ali terluka parah, namun di atas pembaringannya menjelang wafat, beliau menunjukkan akhlak dan keadilan yang luar biasa. Ali berpesan kepada putranya, Hasan bin Ali, mengenai perlakuan terhadap pembunuhnya:
"Tahan orang ini (Ibnu Muljam), beri dia makan dan tempat berlindung yang layak. Jika aku sembuh, aku yang akan menentukan hukumannya. Namun jika aku mati, maka hukum dia dengan hukuman yang setimpal (qisas), dan jangan sekali-kali kalian memutilasi atau menyiksanya..."
Ali bin Abi Thalib wafat dua hari kemudian, pada 21 Ramadan 40 Hijriah. Menjalankan wasiat ayahnya, Hasan bin Ali kemudian mengeksekusi mati Ibnu Muljam melalui hukum qisas yang adil tanpa penyiksaan awal, meskipun massa yang marah kemudian membakar jasad sang pembunuh sebagai bentuk kecaman.
Estafet Tragedi: Nasib Hasan, Husain, dan Keluarga Ali
Kematian Ali bin Abi Thalib bukanlah akhir dari duka keluarga beliau. Banyak orang yang keliru mengira bahwa ibu mereka, Fatimah az-Zahra, menyaksikan tragedi ini. Faktanya, Fatimah telah wafat jauh lebih dulu (6 bulan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW).
Setelah Ali wafat, estafet kepemimpinan dan tragedi berlanjut pada putra-putranya:
- Hasan bin Ali: Setelah sempat diangkat menjadi khalifah, ia memilih menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah demi perdamaian umat. Hasan kembali ke Madinah dan wafat sembilan tahun kemudian (50 H) karena diracun secara sembunyi-sembunyi dalam sebuah konspirasi politik.
- Husain bin Ali: Dua puluh tahun kemudian (61 H), Husain menolak membaiat Yazid bin Muawiyah karena kepemimpinannya dinilai tidak adil. Husain berangkat ke Irak atas undangan warga Kufah yang berjanji mendukungnya. Namun, warga Kufah berkhianat karena takut akan teror penguasa. Husain beserta keluarga kecilnya dikepung dan dibantai secara kejam di Padang Karbala, Irak.
Dalam Tragedi Karbala tersebut, saudara perempuan Husain, yaitu Zainab binti Ali, menjadi saksi hidup yang selamat. Bersama keponakannya, Ali Zainal Abidin (satu-satunya putra Husain yang selamat karena sedang sakit parah saat perang), Zainab ditawan dan dibawa ke istana Yazid di Suriah. Melalui keberanian Zainab yang mengecam Yazid di istananya dan selamatnya Ali Zainal Abidin, garis keturunan suci Nabi Muhammad SAW bisa terus terjaga hingga hari ini.
Pelajaran Berharga untuk Kita Hari Ini
Kisah sejarah ini memberikan tamparan keras bagi kita semua. Abdurrahman bin Muljam adalah bukti nyata bahwa menghafal ayat suci dan tekun beribadah secara fisik tidak ada gunanya jika hati dan pikiran diracuni oleh sifat ekstrem, radikal, dan gemar mengkafirkan sesama Muslim.
Sejarah kelam ini mengajarkan pentingnya mempelajari agama dengan bimbingan batin yang bersih, penuh rahmah (kasih sayang), serta menjauhi sifat merasa paling benar sendiri yang justru dapat menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan.
