Berkunjung ke Kedai Mie Aceh di Balikpapan


Dear Diary...
Bismillah, hari ini perjalanan hidupku membawa diriku ke sebuah kedai Mie Aceh favoritku Mie Aceh Gunung Sari. Letaknya agak ke dalam dari jalan raya, jadi kalau soal kebersihan, tenang, terjaga dari polusi. Nggak ada tuh debu-debu macam pasir gurun yang nempel di hidung atau makanan. Kedainya bersih dan higienis, seperti oase tersembunyi di tengah keramaian kota.

Tentu saja, biar makin afdol, aku pesan juga teh tarik panas—bukan yang sejuk macam air di oase ya, tapi panas, sehangat gurun di siang hari.

Actually aku pingin kopi. Tapi ada bisikan dalam hatiku, "Wahai hamba, kamu tuh udah tahu kalo ngopi malam-malam tuh sama aja kayak ngejak tidurmu lari ke padang pasir. Nanti nggak tidur sampai subuh." Jadi ya sudahlah, aku akur dengan nasihat bijak ini dan memilih teh tarik panas.

Di sana, angin segar dari gurun tak terasa, karena… ya, nggak ada kipas! Jadi sambil makan, aku berkeringat macam domba tersesat di bawah matahari. Keringat mengalir deras, tapi aku suka ini yang aku inginkan. demi mie Aceh, semua itu kubiarkan.

Sebenarnya sih, hari ini badan juga kurang enak. Gara-gara apa? Ya begitulah, kemarin aku sok-sokan berenang di laut sampai malam. Yang bikin seru, habis berenang, langsung naik motor tanpa ganti baju. Jadilah sekarang aku terkapar dengan masuk angin. Kalian tahu nggak? Masuk angin itu bukan cuma mitos, ini nyata, lebih nyata dari Dia yang bilang "besok jogging yuk".

Tapi ya, hidup terus berjalan. Kayak onta yang terus melangkah meski terik. Kalau pun aku masuk angin, teh tarik panas tadi, insyaAllah, bakal menyembuhkan dengan izin-Nya. Aamiin ya robbal aalamin.



Komen aja dulu siapa tau akrab! Kebijakan Komentar