Mengenal Suku Mandar
Suku Mandar adalah suku bangsa yang menempati wilayah Sulawesi Barat, serta sebagian Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah Populasi Suku Mandar dengan jumlah Signifikan juga dapat ditemui di luar Sulawesi seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa dan Sumatra bahkan sampai ke Malaysia. Wikipedia
Motto Sulawesi barat adalah "Millete Diatonganan" yang berarti "berpijak pada kebenaran".
Suku Mandar berbeda dengan suku Bugis dan Makassar
Banyak yang salah paham tentang ini. Walaupun memiliki adat istiadat yang mirip namun keduanya berbeda. Mandar ialah suatu kesatuan etnis yang berada di Sulawesi Barat yang membentang dari tepi selat makassar sampai pegunungan quarless timur. Sulawesi Barat adalah hasil pemekaran dari provinsi Sulawsei Selatan diresmikan pada tanggal 5 Oktober 2004. Bahasa Mandar adalah bahasa persatuan suku Mandar. Suku Bugis adalah kelompok etnis berbahasa Bugis dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Mandar dan bugis sama-sama keturunan Melayu muda yang berasal dari India belakang atau AsiaTenggara.
Suku Makassar juga memiliki banyak kemiripan dengan suku Bugis dan Mandar, baik dari segi budaya, adat istiadat, maupun bahasa. Sulawesi Selatan memang menjadi rumah bagi beberapa suku besar, termasuk Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja, yang sering kali memiliki sejarah dan tradisi yang saling berhubungan.
Suku Bugis, Makassar, dan Mandar semuanya termasuk dalam rumpun etnis Sulawesi Selatan. Sejarah mencatat bahwa ketiga suku ini sering terlibat dalam hubungan politik, perdagangan, dan pernikahan antar suku. Karena interaksi yang panjang ini, mereka berbagi banyak nilai budaya dan tradisi.
Bahasa Makassar juga termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia seperti Bugis dan Mandar. Meski bahasa Bugis, Makassar, dan Mandar berbeda, ada banyak kesamaan kosakata dan struktur bahasa di antara ketiganya, sehingga sering kali orang dari satu suku dapat memahami sebagian bahasa dari suku lain.
Baik suku Bugis, Makassar, maupun Mandar terkenal sebagai pelaut ulung. Mereka memiliki tradisi maritim yang kuat, yang tidak hanya menghubungkan mereka dengan laut, tetapi juga dengan budaya perdagangan antar pulau di Indonesia dan bahkan hingga ke luar negeri. Perahu-perahu tradisional seperti "Pinisi" dari Makassar dan "Sandeq" dari Mandar menjadi bukti warisan maritim yang mereka miliki.
Ketiga suku ini memiliki sistem adat yang kuat dengan nilai-nilai seperti keberanian, kehormatan, dan martabat. Mereka semua memiliki struktur sosial yang cukup mirip, dengan sistem kebangsawanan yang menghormati gelar dan keturunan bangsawan. Selain itu, nilai-nilai seperti "Siri' na Pacce" dalam suku Bugis dan Makassar, yang berarti kehormatan dan solidaritas, juga menjadi bagian penting dari budaya mereka.
Suku Bugis dan Makassar memiliki sejarah yang sangat erat, terutama melalui kerajaan-kerajaan besar seperti Kerajaan Gowa (yang didominasi oleh Makassar) dan Kerajaan Bone (Bugis). Di masa lalu, mereka kerap terlibat dalam aliansi atau konflik, namun juga memiliki ikatan pernikahan dan budaya. Suku Mandar juga terlibat dalam hubungan politik dan perdagangan dengan kedua suku tersebut, sehingga budaya mereka pun saling mempengaruhi.
Memang, Bugis, Makassar, dan Mandar memiliki banyak kesamaan karena interaksi budaya, sejarah, dan geografis mereka yang erat. Namun, seperti halnya Bugis dan Mandar, Makassar juga memiliki identitasnya sendiri yang unik. Jadi, meskipun ada banyak kesamaan, setiap suku ini tetap memiliki karakteristik dan tradisi yang berbeda yang memperkaya keberagaman budaya Sulawesi Selatan.
Pandangan bahwa suku-suku ini mirip adalah wajar, karena mereka memang berasal dari wilayah dan budaya yang saling terkait.
Orang Mandar Adalah Pelaut Ulung
Cristian pelras adalah seorang etnolog Prancis yang ahli mengenai Indonesia khususnya Celebes atau Sulawesi. Dalam bukunya yang ia tulis "Manusia Bugis" dikatakan orang Bugis yang selama ini dianggap sebagai pelaut ulung sebenarnya bukan semata pelaut namun lebih tepatnya mereka adalah pedagang yang memanfaatkan laut dan alat-alat perairan. Orang Mandarlah pelaut yang lebih ulung. Suku Mandar unggul sebagai pelaut bukan dari alat-alat yang canggih dan kapal-kapal besar yang kokoh. Keunggulan mereka justru terletak pada dua teknologi perikanan lokal yang mereka kembangkan sendiri. Yang pertama adalah rumpon. Hingga kini, alat yang mulanya dikembangkan oleh masyarakat pesisir teluk Mandar ini lazim digunakan di banyak negara. Yang kedua adalah perahu sandeq. Perahu jenis ini punya ciri khas bercadik tradisional dan dikenal sangat cepat. Meski memiliki keunggulan di laut, masyarakat suku Mandar bisa dibilang sangat bersahaja. Mereka tidak membuat keunggulan itu sebagai alat untuk mendominasi suku lain melainkan hanya memanfaatkannya untuk mengatasi tantangan alam.
Pakaian tradisional pria suku Mandar
perpaduan jas dan celana hitam dengan kain sarung tenun warna merah bercorak khas Mandar dikenakan dipinggang layaknya memakai sarung, seperti songket yang dikenakan bangsa melayu pada umumnya. serta penutup kepala yang disebut songkok tabone, menjadikan pakaian adat Suku Mandar terlihat elegan dan menawan. Bagaimana Wapres KH. Ma'ruf Amin keren kan pakai adat suku Mandar.
Rumah tradisional suku Mandar
Rumah dalam bahasa Mandar disebut boyang. Boyang memiliki struktur rumah panggung yang menggunakan material kayu.
Makanan tradisional suku Mandar
Makanan tradisional suku mandar sungguh banyak rupa tetapi beberapa memiliki ikon yang kuat tentang Sulawesi barat yaitu bau peapi. Bau peapi berarti ikan yang dimasak. Bau peapi memiliki ciri khas pada rasa yang nikmat dan kuah yang kental sedap apalagi dimakan dengan jepa.
Kesenian tradisional suku Mandar
Beberapa tradisi suku Mandar diantaranya Tradisi Sayyang Pattu'du atau "kuda menari"
Pappasiloba Lopi sandeq dan Kalindaqdaq atau pantun mandar.


